(suterachannel.id) Wajo – Sulsel, Penerimaan rapor siswa dijadwalkan berlangsung besok. Sabtu (27/12/2025), Menyambut momen tersebut, pemerintah meluncurkan program “Gerakan Ayah Mengambil Rapor di Sekolah”, yang bertujuan memperkuat peran ayah serta mendorong pola pengasuhan yang setara antara ayah dan ibu.
Namun, di balik niat baik tersebut, muncul suara keprihatinan yang datang dari mereka yang selama ini hidup dan bergelut langsung dengan realitas anak-anak yatim
Sudirman Meru, motivator anak yatim yang dikenal luas karena konsistensinya mendampingi dan menguatkan anak-anak kehilangan figur ayah, tak kuasa menyembunyikan kegelisahannya saat mendengar istilah program tersebut.
Saat dihubungii media, suaranya bergetar. Dadanya terasa sesak. Ia terdiam cukup lama, seolah menata perasaan yang mendadak bergolak.
“Kenapa harus ada kata-kata seperti itu? ucapnya lirih.
Bagi Sudirman, istilah “Gerakan Ayah Mengambil Rapor” bukan sekadar nama program atau slogan kebijakan. Kalimat itu, menurutnya, bisa berubah menjadi pukulan batin bagi anak-anak yatim, anak-anak yang setiap hari berjuang menerima kenyataan pahit bahwa ayah mereka telah tiada.
“Apakah kita tidak pernah menoleh ke belakang?” lanjutnya dengan nada getir.
“Bagaimana dengan anak yatim yang tidak mempunyai seorang ayah? Mereka datang ke sekolah dengan hati yang rapuh, lalu harus mendengar kata-kata yang mengingatkan bahwa mereka berbeda.”
Ia mengaku khawatir istilah tersebut justru menjadi sumber luka baru. Dalam bayangannya, anak-anak yatim bisa menjadi sasaran ejekan, ditertawakan, atau memilih diam menunduk menahan malu ketika teman-temannya dijemput sang ayah untuk mengambil rapor.
“Ini sangat menyakitkan,” ujarnya.
“Kata-kata itu bisa mengiris hati anak yatim, tanpa kita sadari.”
Dengan suara yang masih tertahan, Sudirman Meru memohon agar ke depan pemerintah lebih sensitif dalam memilih istilah, terutama yang berkaitan langsung dengan kondisi psikologis anak-anak yang telah kehilangan orang tua.
“Dalam Al-Qur’an, peringatan bagi siapa saja yang menyakiti anak yatim sangatlah berat,” tutupnya.
“Jangan sampai program yang niatnya baik justru berubah menjadi sumber air mata bagi mereka.”
Deden






